5 Februari 2012 | By: Arry Rahmawan

Setangkai Mawar di Pelukan Ibu


Setangkai Mawar di Pelukan Ibu

Aku diterima! Alhamdulillah setelah melalui perjuangan, aku diterima untuk melanjutkan studi di Institut Pertanian Bogor (IPB) yang selama ini aku idam-idamkan. Aku diterima di jurusan Teknik Industri Pertanian, suatu kehormatan yang besar karena jurusan ini menurutku jurusan favorit bergengsi. Perkenalkan, namaku Imam, 17 tahun. Seorang pemuda sederhana yang tinggal bersama seorang ibu yang sangat aku cintai. Benar-benar sangat aku cintai. Seorang ibu yang selalu menyapaku dengat senyuman terindah ketika aku lelah, seorang ibu yang selalu membuat santapan terenak dengan cinta dan kasih sayang tiada tara, hingga tatapan penyemangat tiada henti di kala diri ini sedang merosot tajam dalam kehampaan. Bersama ibu, aku tinggal di sebuah rumah kontrakan kecil di daerah Ciawi. Ibu adalah orang Jawa yang sudah 10 tahun tinggal di Ciawi, tetapi tetap entah kenapa tidak bisa berbahasa Sunda, hehe... Satu hal yang kukagumi dari Ibu, walaupun sudah berusia hampir mencapai 55 tahun, tetapi semangatnya untuk bekerja tidak pernah luntur untuk membiayai keluarga dan menambah uang saku kuliahku.


Sebentar lagi, salah satu saat terberatku dalam hidup ini akan menyapa. Aku harus meninggalkan ibu untuk melanjutkan studiku. Berat rasanya, meninggalkan ibu seorang diri. Bagaimana bila terjadi apa-apa?

Yo ra opo opo to le, kowe mesthi sinau sing genah. Ora usah mikirke aku.” Kata ibuku dengan bahasa Jawanya yang khas.

“Benar kan bu tidak apa-apa? Besok Imam berangkat. Kalau ada apa-apa, ibu bisa menghubungi Imam ke nomor ini.”

Wis tho gampang, cuma ibu mau pesan satu hal saja,”
Aku berdebar. Pesan?
kowe mesthi mulih, Sabtu-Minggu iso le?”

Aku tersenyum. Dengan tatapan hangat dan meyakinkan, kusampaikan pada ibu bahwa aku akan pulang setiap akhir pekan. Aku memeluk ibu, cukup lama. Satu hal yang tidak aku kira adalah ibu menyuruhku untuk membawa sepeda tua yang biasa ibu pakai sehari-hari bekerja sebagai tukang cuci. Sebenarnya itu adalah sepeda ayah. Sepeda itu masih bagus, kok.

“Kowe mesthi nggowo iki. Angkot sekarang mahal diongkos.” Aku hanya bisa tertawa kecil, dan aku menuruti ibu.

Esoknya dengan penuh semangat, aku berangkat. Wajah ibu yang hangat dan masih terlihat muda, membuatku ingin memeluknya sekali lagi. Memohon doa restunya. Meminta ridho nya. Puas memeluk ibu, aku berangkat dengan sepeda tua. Tidak masalah, Ciawi-Dramaga buatku biasa saja, anggap saja olahraga. Toh dulu aku pernah berjalan yang lebih jauh dari ini. Sepeda ini ternyata masih oke dan fit. Aku bisa sampai ke Dramaga walaupun bersimbah peluh. Barang-barang besar sudah kukirim ke asrama beberapa hari lalu, jadi sekarang aku tidak membawa barang terlalu banyak.

Finally, IPB! Salah satu institut yang paling banyak diminati orang untuk masuk melalui seleksi ketat. Aku bersyukur bisa menjadi salah satu bagian dari sini. Lingkungannya baik dan kondusif. Baiklah, aku mempersiapkan diri untuk menghadapi ospek nanti.

Was-was terhadap ospek, karena kupikir bakal semenyeramkan MOS ketika di SMA. Tapi ternyata tidak juga, malahan asyik banget lho. Kalo di sini namanya MPKMB, sedikit lebih panjang, hehe.  Aku mendapatkan banyak teman dari jurusan yang berbeda-beda. Tugasnya memang banyak banget sih, padahal cuma seminggu rasanya kayak udah jalan sebulan. Tugas ini, tugas itu. Well, aku cuma ingin memberikan yang terbaik. Maka seluruh tugas kukerjakan dengan sebaik-baiknya. Bahkan terkadang aku ditunjuk untuk menjadi semacam leader, jika ada tugas yang dikerjakan secara tim.

Siapa sangka aku mendapatkan predikat peserta terbaik MPKMB? Memikirkannya saja aku tidak pernah. Tetapi alhamdulillah, aku tetap mensyukurinya. Sekali lagi, aku hanya ingin mengerjakan semua yang diberikan dengan sebaik-baiknya. Tetapi sepertinya ini tidak berakhir sampai di sini. Banyak teman-teman yang mendekatiku, terutama perempuan. Memang sih beberapa track record ku belakangan cukup baik. Pergaulan oke, organisasi oke, dan akademik juga bagus-bagus saja. Sampai akhirnya tidak terasa, sudah satu bulan aku tidak pulang. Setiap Sabtu dan Minggu, selalu saja ada hal yang membuatku ada di kampus. Mulai dari acara-acara untuk maba (mahasiswa baru), seminar dan kajian, hingga belajar atau olahraga bersama. Aku hanya bisa menelpon ibu setiap Sabtu dan Minggu. Ibu jarang menelponku dengan alasan takut mengganggu.

Jaringan alumni SMA ku yang kuat menancap di IPB juga membuat waktuku untuk pulang semakin sempit. Selama Bulan September aku ingat hanya pulang sekali menjenguk ibu. Ibu kemudian membuat masakan yang menurutku sangat ‘wah’. Aku jadi tidak tega untuk meninggalkannya lagi. Tetapi di HP ku ini, terus masuk SMS demi SMS dari teman-teman dan senior. Seniorku waktu SMA tentu saja, karena SMA ku adalah salah satu SMA negeri terbaik di Bogor maka konsekuensinya (katanya) lulusan SMA ku adalah SDM-SDM yang diperhitungkan kualitasnya di IPB.

“Mam, malam ini kita ketemu ya di Al-Hurr ngebahas BEM TPB”
Aku membacanya. Lantas aku mengkomunikasikan hal ini dengan ibu.

“Ibu ga masalah nek kowe meh aktif organisasi. Tapi ya pulang, seminggu sekali wae. Kowe kan wes nyanggupi to le.”, ibu memaksakan dirinya tersenyum walau aku tahu itu berat.

Aku tidak tega membiarkan ibu sendirian. Jangankan aktif di BEM TPB, tidak aktif saja belum tentu aku bisa pulang sepekan sekali. Aku merenung, SMS senior tadi pasti ingin mengajakku untuk terlibat aktif. Mungkin aku bisa mengkomunikasikan hal ini dengan mereka dan mereka akan mengerti.

Malamnya di kampus, aku ke Al-Hurr. Masjid megah indah menjulang di IPB yang menurutku merupakan tempat yang sangat nyaman untuk berdiskusi. Kemudian, aku bertemu dengan seniorku itu. Singkat kata: aku akan dicalonkan sebagai ketua BEM TPB. Seperti yang diketahui, BEM di IPB ada yang namanya BEM TPB, badan eksekutif untuk mereka di tahun TPB, tingkat 1.

Ini gila. Kupikir hanya sebagai korbid atau semacam itu. Ini? Ketua BEM TPB. Mereka bilang sih tidak terlalu sibuk. Aku tidak percaya, karena orang-orang macam aku ini selalu memaksakan diri untuk menuntaskan amanah, bahkan berinovasi jika diberikan posisi sestrategis itu.

Aku komunikasikan semuanya kepada mereka tentang keadaanku. Justru semakin aku berkata, mereka semakin kuat membantahnya. Aku kehabisan kata-kata. Apalagi memang ibu tidak pernah melarangku ikut aktivitas seperti ini.

Singkatnya aku maju sebagai kandidat, waktu itu pemilihan tanggal 16-17 November. Ibu, maafkan aku tidak pulang lagi bulan ini....

Pengumuman tanggal 23 November itu kemudian menggetarkan hatiku, memerahkan wajahku, dan seolah menimpakan aku dengan dua batu besar ke bahuku yang lemah. Aku terpilih menjadi ketua BEM TPB. Innalillahi wa inna ilaihi raji’uun.

Ciawi, 27 November
Seorang ibu tua terduduk memandangi hanpdhone bututnya, Nokia 3210 yang dibelinya seharga seratus ribu rupiah di salah satu konter di pasar Ciawi. Menantikan sebuah kiriman SMS yang tidak kunjung datang ke inboxnya. Tanpa terasa, matanya terasa penuh dengan air, berkaca-kaca. Ada sesuatu yang harus dia sampaikan kepada anaknya. Tetapi, bagaimana bila hal tersebut mengganggunya? Saat ini, yang dia tahu anaknya sedang belajar di salah satu universitas terkenal di negeri ini. Ibunya mengambil selembar kertas, kemudian menuliskan sesuatu di situ. Dilipat dengan rapi, dan ditaruh di suatu tempat biasa menaruh barang berharga. Di situ ada perhiasan peninggalan suami, sebuah surat, dan foto Imam.

IPB Dramaga, 22 Desember
Kamis pagi, aku kuliah seperti biasa dan kemudian rapat BEM. Pagi, siang, sore, dan bahkan menjelang malam aku masih di kampus. Ya Allah, seandainya saja waktu sehari itu lebih dari 24 jam, karena aku merasa bahwa semua harus selesai sekarang.

Aku kemudian ke kamar sahabatku di sebelah kamarku. Ada tugas kuliah yang belum kupahami. Tetapi kemudian dia bertanya kepadaku, “Mam, sekarang ini hari ibu. Sudah mengucapkan ke ibumu belum?”

Sontak aku melupakan semua tugas dan pikiranku menuju satu orang yang sangat aku cintai: ibu. MasyaAllah, bagaimana aku bisa lupa? Dan kenapa aku harus ingat ketika hari sudah menjelang malam? Aku langsung lari keluar, mengambil sepedaku, tidak peduli dengan tata tertib asrama yang mengharuskanku menginap atau lapor. Aku cabut. Buatku ini adalah hal darurat. Aku berhenti sebentar di sebuah toko bunga di dekat masjid setelah aku shalat maghrib. Ibu suka sekali dengan bunga mawar.

Aku kemudian membelinya. Bunga mawar yang masih segar. Sepanjang jalan terus kukayuh sepedaku, aku mengayuhnya dengan secepat mungkin yang aku bisa. Kapan terakhir aku pulang ke rumah? Sepertinya hampir 2 bulan aku tidak pulang. Aku hanya mengucapkan SMS-SMS singkat untuk ibu, menanyakan kabarnya, sudah makan atau belum, dan aku tersadar, aku tidak pernah mengucapkan lebih dari itu.

Aku di sini punya banyak teman dan sahabat berbagi cerita, ibu?
Aku di sini punya banyak orang yang mencintai dan mendukungku, ibu?
Aku di sini selalu tertawa bersama setiap makan bersama sahabat, ibu?
Aku di sini selalu bisa membahas isu-isu seru pergerakan dengan teman dan BEM TPB ku, ibu?
Kenapa tiba-tiba aku berurai air mata?
Aku sudah di Tajur. Sebentar lagi sampai, ibu...
Aku membawakan mawar untukmu... Aku ingin melihat senyumanmu yang terindah...

Sementara aku merasakan ada getaran-getaran di saku celanaku. Handphone ku berdering. Paling dari BEM TPB yang sedang mencariku. Aku bisa menghubungi mereka nanti. Aku sedang mengayuh sepeda. Tanggung.

Dua kali handphone berdering.
Tiga kali handphone berdering.
Empat kali handphone berdering.
Keras Kepala.

Aku pulang, sampai rumah. Aku segera masuk dengan penuh harapan dapat menjumpai senyuman ibu yang terindah. Tetapi di rumah tidak ada orang. Pintu tidak dikunci. Adzan Isya’ berkumandang. Perasaanku tidak enak. Aku mencoba positif. Aku tutup pintu rumah, mungkin ibu sedang keluar ke warung. Aku shalat Isya. Handphone ku berdering lagi.

Aku lupa bahwa sudah 5 missed call, mungkin dari orang yang sama. Tapi siapa? Aku buka handphoneku.

“Ibu (5)”

Ibu? Ibu menelponku? Aku segera menelpon balik ibu. Aku sengaja tidak menelponnya sebelum sampai rumah. Aku ingin memberikannya kejutan dengan bunga mawar ini.
Tut.... tut....
Tut.... tut....
Tut.... tut....

“Assalamualaikum,” terdengar suara berat laki-laki menjawab telponku. Seperti suara Pak Eman, ketua RT.

“Waalaikumsalam, i... ini Pak Eman?”

”Iya, nak Imam. Ini Pak Eman... Kenapa tadi telponnya ga diangkat? Kamu lagi di mana sekarang?”

“Saya di rumah, Pak. Baru sampai. Kenapa hape ibu saya bisa sama Bapak?”
“Di rumah? Segera ke RSUD Ciawi, Mam.”
“Ada apa Pak?”
“Bapak tunggu di RSUD Ciawi. 5 Menit yang lalu ibumu dilarikan kemari.”
Sambungan terputus.

Perasaanku semakin tidak enak. Entah kenapa badanku menjadi sedikit gemetar. RSUD Ciawi? Ibu dilarikan 5 menit yang lalu?

Segera kukayuh sepedaku, ibu pasti belum jauh. Kenapa ibu dilarikan ke RSUD Ciawi? Menggunakan ambulance? Atau mobil tetangga? Aku tidak memikirkan itu. Aku mau ibu.

Hanya 15 menit aku sudah sampai di RSUD. Aku langsung bertemu dengan Pak Eman yang langsung menungguku di depan rumah sakit. Aku langsung bertanya, ada apa? Mengapa ibu dilarikan kemari?

“Nak, kuatkan dan tenangkan dirimu.” Kata Pak Eman dengan nada yang lembut.
Aku tidak percaya. Ibu meninggal 5 menit yang lalu karena TBC.

Aku segera memacu kakiku. Aku berlari, aku berlari. Tidak mungkin. Ibu masih ada. Ibu, ibu pasti masih ada. Ibu belum jauh, ibu belum meninggal. Sampai kemudian aku benar-benar melihatnya dengan mataku sendiri. Terbujur tenang dan damai di bangsal ICU. Tiba-tiba aku teringat semua kenangan tentang ibu, hingga suara Al-Quran yang selalu dilantunkannya sehabis maghrib di rumah.

Aku merasakan sesak yang sangat. Aku kehilangan saat-saat terakhir bersama ibu. Aku tahu ibu TBC, tapi aku pikir ibu telah sembuh. Aku tahu ibu masih ada di ruangan ini. Aku tahu ibu belum jauh. Ibu, terimalah mawar ini. Aku mengecup kening ibu, memuntahkan semua rasa kasih sayangku yang bisa kuberikan padanya, sambil menyelipkan setangkai mawar dalam pelukannya. Setangkai mawar dalam pelukan ibu ini menjadi saksi bahwa aku menyelipkan beribu doa, doa seorang anak yang sangat cinta kepada ibunya untuk diberikan tempat yang terindah di sisiNya. Selamat jalan ibu, aku sayang ibu...


Arry Rahmawan, adalah Inspirator CerdasMulia,  Direktur Penerbit Granada, wakil ketua Center for Entrepreneurship Development and Studies Universitas Indonesia, sekaligus praktisi pengembangan SDM. Telah mengantongi ribuan jam terbang sebagai pembicara, motivator, dan konsultan khususnya untuk pelajar dan mahasiswa. Direktur Pengembangan Bisnis Permata CerdasMulia Indonesia ini dapat dihubungi via email di arry.rahmawan@gmail.com atau follow twitternya di @ArryRahmawan

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Arry Rahmawan sebagai penulisnya dan Blog Kak Arry sebagai sumbernya