13 Februari 2012 | By: Arry Rahmawan

Baca dan Hasilkan Karya untuk Menginspirasi Bangsa


Pada akhir bulan Januari 2012, saya sempat tercenung sejenak mengenai sebuah surat yang dikeluarkan Dirjen DIKTI. Isi surat tersebut menarik karena mengharuskan kalangan akademisi yang ingin lulus dari perguruan tinggi memiliki makalah atau karya tulis yang dipublikasikan. Menariknya adalah latar belakang yang kemudian membuat surat keterangan ini keluar. Indonesia saat ini tertinggal cukup jauh dalam pembuatan karya ilmiah dibandingkan dengan negara tetangga (Malaysia), yang bahkan hanya sekitar sepertujuh! Belum lagi jika kita membandingkan dengan negara-negara yang lebih maju. Bagaimana bila dibandingkan dengan negara Jepang, China, Singapura, negara-negara Eropa Barat, dan Amerika Serikat? Padahal Anda tahu produktivitas dihitung dengan output per input. Padahal input (jumlah penduduk) di Indonesia nyaris 9 – 10 kali dengan negara-negara maju.

Melihat fakta itu, saya merinding. Indonesia punya potensi besar untuk mengungguli negara-negara maju tersebut. Dengan catatan: tingkatkan ouptunya.


Kemajuan Bangsa Berawal dari Membaca
Padahal jika direnungkan, Indonesia memiliki penduduk dan akademisi yang cukup banyak. Tetapi mengapa masih dapat tertinggal jauh sekali dalam produktivitas menghasilkan karya tulis? Kalau dulu ketika membaca buku Spiritual Reading karya Dr. Raghib As-Sirjani, saya seperti ingin sekali membaca semua buku di dunia. Dr. Raghib mengatakan bahwa bangsa yang maju adalah bangsa yang banyak membaca. Beliau bahkan membuat sebuah ilustrasi di mana Jepang, rata-rata setiap penduduknya membaca 40 buku per tahun, disusul kemudian dengan Amerika Serikat dengan kisaran 15-20 buku dibaca tiap orang per tahunnya. Yang mengenaskan adalah di kawasan timur tengah, setiap orang hanya membaca 1-2 tiap tahun. Indonesia? 100-200 lembar, itu pun belum dihitung berapa masyarakat kita yang masih belum dapat membaca.

Lihat kemajuannya sekarang, apa yang dikatakan beliau benar adanya! Jepang, Amerika, dan negara-negara Eropa Barat terbukti hingga saat ini memimpin kemajuan dunia. Berbagai macam penelitian, penemuan, inovasi, bahkan sampai orang-orang di dunia seperti ‘berebut’ ingin merasakan bagaimana dahsyatnya belajar di negara-negara maju tersebut. Universitas seperti Harvard, MIT, Stanford, Cambridge, Oxford, Todai, dan primadona lainnya itu semua berasal dari negara-negara ‘peringkat teratas dalam membaca buku terbanyak’.

Indonesia sebagai sebuah negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia jarang sekali saya menemukan mereka ingin melanjutkan kuliah ke timur tengah, kecuali dari lulusan pesantren dan itu pun ingin memperdalam ilmu agama Islam. Padahal sahabatku semua, bukankah ayat pertama yang turun dalam Islam itu adalah ‘iqra’? Bukankah ayat pertama yang menandakan turunnya agama yang mulia dan rahmat bagi seluruh alam ini adalah perintah untuk membaca? Maka izinkan saya menuliskan sebuah opini dan refleksi untuk bangsa Indonesia ini bukan karena keberpihakan pada suatu agama, tetapi memang Islam itu lahir untuk semua manusia.

Refleksi Islam di Abad Pertengahan
Sebelum lebih lanjut, izinkan saya untuk mengulang kembali sejarah emas peradaban Islam. Jika Anda membuka catatan-catatan (yang menurut saya) sengaja dihilangkan tentang peradaban Islam pada abad 8 sampai 16 masehi maka akan banyak prestasi-prestasi gemilang di sana. Anda akan menemukan ada ilmuwan bernama Al-Khawarizmi yang menemukan angka nol dan perhitungan aljabar. Anda akan mengetahui bahwa dulu khalifah Harun Ar-Rasyid dari Bani Umayah memiliki Baitul Makmur, perpustakaan dengan buku puluhan jilid yang untuk membukanya saja membutuhkan banyak unta untuk mengangkut kuncinya. Tokoh seperti Ibnu Sina yang membuat buku kanun sebagai landasan kemajuan kedokteran barat, Al Biruni sang ahli farmasi, filosofi, dan juga ilmu pengobatan, dan banyak lagi yang lainnya. Ketika kemudian karya-karya mereka diteliti kembali oleh ilmuwan barat, justru nama ilmuwan barat lah yang kemudian diagung-agungkan sebagai penemu-penemu hebat.

Masih kekurangan contoh? Saya masih ada beberapa contoh lain dalam rentang abad tersebut. Contoh ini yang semakin membuat Islam memang suatu ajaran agung bagi seluruh alam semesta. Seorang Imam Ibnu Jauzi selama hidupnya mampu menghasilkan 519 karya buku. Bahkan seorang murid beliau mengatakan, jika dikalkulasikan umur yang beliau miliki dengan buku yang beliau hasilkan maka beliau dalam sehari mampu menulis sembilan buku seukuran buku tulis. Ada lagi contoh lainnya, Imam Ibnu Aqil mampu membuat sebuah ensiklopedia lengkap yang berisikan berbagai macam ilmu, mulai ilmu Islam hingga pengetahuan umum sebanyak 800 jilid. Imam Ahmad, salah seorang ahli fiqih terkemuka dalam Islam senantiasa menghargai waktunya untuk membaca dan menulis. Bahkan beliau terus belajar dan menulis dalam kondisi tidurnya, hingga jika ditanyakan, “wahai imam, mengapa Anda tidak beristirahat?”, maka beliau menjawab, “tiada kata istirahat kecuali kita telah berada di dalam syurga.”

Membaca Tidak Cukup, Tuliskan!
Kembali lagi pada pembahasan awal, ternyata Indonesia alhamdulillah saat ini sudah menyadari pentingnya karya tulis. Ini jelas sekali bahwa kemajuan zaman terus berkembang dan berubah. Jika dulu Dr. Raghib berkata bahwa bangsa yang maju adalah bangsa yang membaca, maka sekarang menjadi bangsa yang maju adalah bangsa yang menulis. Mengapa? Pertama, dengan menulis otomatis akan meningkatkan produktivitas membaca. Kedua, menulis dapat menjadikan seseorang berusaha memahami apa yang ditulisnya daripada hanya sekedar membaca. Ketiga, menulis mampu menginisiasi perubahan dan pergeseran zaman. Keempat, menjadi peninggalan sejarah yang bernilai dalam setiap riwayat hidup setiap orang. Kelima, mempercepat kemajuan bangsa, karena bangsa yang maju adalah bangsa yang tidak hanya membaca tetapi juga menulis.

Maka jika DIKTI sampai prihatin tentang kondisi akademisi yang produktivitas menulisnya itu rendah, dapat kita bayangkan bagaimana produktivitas membaca dan menulis mereka yang pendidikannya biasa-biasa saja? Padahal dengan segala kemudahan akses yang ada sekarang, membaca dan menulis seharusnya menjadi aktivitas yang mudah semudah membalikkan kedua telapak tangan bukan? Mentor menulis saya, Mbak Afifah Afra pernah berkata, “sebenarnya mereka yang belum menghasilkan sebuah tulisan dalam hidupnya seperti manusia prasejarah.” Mungkin terdengarnya kejam, tetapi saya sendiri sering membatin bahwa di kondisi digital yang sudah sangat memudahkan ini, ketika suatu saat kita meninggalkan dunia tanpa ada ilmu bermanfaat yang kita tuliskan untuk dunia itu adalah sangat keterlaluan.

Produktivitas Umat Islam dan Bangsa Indonesia Kini?
Pertanyaan itu silakan dijawab dalam hati kita masing-masing. Tetapi izinkan sekali lagi saya membuka sebuah lembar sejarah di bumi kita. Anda tahu Snouck Horgonje? Seorang ahli dan konsultan militer Belanda ini pernah kesulitan menghadapi tentara muslim di Indonesia. Akhirnya sejarah menuliskan dia menyamar sebagai seorang ulama dan kemudian menjadi seorang pembesar di kalangan umat Islam yang akhirnya umat Islam pun bungkam dari perjuangan. Kenapa? Karena Snouck memberikan doktrin sekularisme yang memisahkan umat Islam antara agama, ilmu, dan politik. Setiap umat Islam didoktrin, bahwa kita cukuplah menjadi orang sederhana, rajin shalat, banyak-banyak menghafal quran, ke masjid saja, tidak perlu beraktivitas politik, tidak perlu belajar ilmu dunia, dunia untuk orang kafir, akhirat untuk muslim.

Kenyataannya, masih banyak dari kita yang (mungkin) masih sering berfikir seperti itu. Buat apalah kita menjadi orang pinter, toh nantinya juga kita akan mati. Buat apa kita menghasilkan tulisan, toh yang penting pengamalan. Buat apa kita menguasai dunia? Toh kita nanti akan bahagia di akhirat, dunia itu hanya sementara! Akhirnya apa? Produktivitas kita mati! Output kita macet! Bangsa ini akhirnya mudah diinjak-injak, difitnah dan selalu dipandang rendah oleh bangsa lain. Jika Nabi Muhammad mengajarkan doktrin seperti itu, saya yakin di dunia ini tidak ada yang namanya agama Islam. Islam itu bisa bertahan keasliannya hingga saat ini karena ajarannya yang mengajarkan berharganya waktu, mengajarkan kita untuk berkarya di dunia untuk mencapai kemuliaan di akhirat, dan yang pasti mengajarkan produktivitas. Dalam QS. Al ‘Ashr bahkan disebutkan bahwa semua orang itu rugi kecuali mereka yang beriman, beramal, dan bermanfaat (saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran).

Maka melalui tulisan ini saya mengingatkan khususnya untuk diri saya sendiri, bahwa kita jangan hanya bangga sebagai bangsa Indonesia. Beraksilah secara nyata, menghasilkan karya, untuk memajukan bangsa kita. Jadilah seorang yang Cerdas, di mana kita mencapai keunggulan dan menghasilkan banyak karya namun diiringi sifat Mulia, di mana keunggulan dan karya itu bermanfaat untuk kemaslahatan umat.

Sebagai penutup, kita bisa menjawab beberapa pertanyaan ini dalam hati:
1.       Berapa buku yang telah saya baca dan berapa buku yang telah saya tulis?
2.       Kira-kira, ketika setiap orang mendengar nama saya, apa yang mereka ingat?
3.    Saat saya meninggal, sejarah Indonesia akan mencatat diri saya sebagai apa? Atau saya tidak  dikenang sama sekali dan sekedar lewat untuk hidup?
4.    Jika saya menginginkan surga, seberapa layak dibandingkan dengan ilmu dan kontribusi saya untuk dunia? Bukankah surga itu untuk orang-orang yang istimewa?

Semoga kita tidak kehabisan umur dan waktu untuk menyebarkan inspirasi lewat gagasan-gagasan kita. Menulis memang mungkin tidak semua orang suka, tetapi semua bisa menulis. Sama persis seperti membaca. Tidak semua orang suka membaca, tetapi bisa menulis. Jangan sampai kita meremehkan diri kita tidak dapat menulis hanya karena kita tidak suka. Investasikan waktu Anda untuk membuat tulisan bermanfaat, artikel di blog, majalah, koran, twitter, facebook, hingga sebuah buku. InsyaAllah itu tidak hanya bermanfaat di dunia, karena ilmu yang bermanfaat adalah salah satu sebab terus mengalirnya pahala bagi mereka yang telah wafat.

Salam CerdasMulia!



Arry Rahmawan, adalah presiden direktur Penerbit Andalusia Media Cendekia, wakil ketua Center for Entrepreneurship Development and Studies Universitas Indonesia, sekaligus praktisi pengembangan SDM. Telah mengantongi ribuan jam terbang sebagai pembicara dan khususnya untuk pelajar dan mahasiswa. Pendiri de' Rahmawan Group dan Rahmawan Foundation yang bergerak dalam pengembangan pendidikan generasi muda. Untuk menghubunginya silakan kirimkan email ke arry.rahmawan@gmail.com atau follow twitternya di @arry2201